

Ketika realita tak semudah itu berkibar dengan cerianya. Ketika langkah yang kutempuh tak seberat umur yang kubuang sia-sia. Aku rindu gelak tawa tanpa topeng.
(Photograph by @chillonk)
Ilalang menari di tengah badai.
Senja mengintip di balik awan,
tersenyum centil hingga pipinya memerah.
Matahari melukis siluet yang cantik,
menggambarkan sang idola
yang menari dengan gemulai.
Meninggalkan rembulan dengan kepalan tangannya,
menggeram hingga bintang berlarian
Untuk kesepian yang selalu menggerogotiku.
Selamat, kali ini kau berhasil membuatku putus asa untuk bernafas dengan harapan.
Mungkin kau yang terlalu jenius, atau aku yang masih setia dibutakan cinta.
Palsu.
Kuyakin kau berpesta malam ini.
Menertawakan kesengsaraan budak asmara yang terengah-engah mengejar kenyataan. Yang tidak perlu dihiasi ribuan janji surga.
Aku, dan kau, kita tidak sesuci itu, kawan.
Buka akal sehat yang kau pensiunkan itu.
Temui duniamu yang sesungguhnya.
Terlelap ku sejenak di lembah syair
rindu akan kebebasan memandang realitas,
dengan topeng nasionalis aku berteriak
kemana suara riuh yang tadi menghujam?
Dalam sepotong keringat kuciumi satu-satu
dalam rajaman tuduhan fitnah
dalam amarah yang membelah pusaka.
Ingatlah aku, saat sumpah serapahmu kau telan hidup-hidup
begitu kau membuka mata manusiamu.
“First step to make your dreams come true is to wake up”. Kalimat itu yang sering dicamkan manusia bijak kepada manusia lain yang terbuai dalam dunia khayalannya.
Mereka, manusia-manusia yang merasa sangat bijak itu, tidak benar-benar mengerti arti bermimpi yang sesungguhnya. Setidaknya ada satu mimpi yang harus tetap hidup sebagai mimpi. Mimpi yang dapat kau bentuk menjadi apapun yang kau mau. Tak perlu terobsesi membuatnya menjadi nyata.
Karena faktanya dunia tidak selalu membuatmu tersenyum.